Senioritas Itu Ketinggalan Jaman

Gambar: sahabatfillah.net Pekan perayaan kelulusan SMA telah usai, macam-macam selebrasinya pun telah puas kita lihat melalui media informas...

Senioritas Itu Ketinggalan Jaman, Ia Pantas Dibunuh
Gambar: sahabatfillah.net
Pekan perayaan kelulusan SMA telah usai, macam-macam selebrasinya pun telah puas kita lihat melalui media informasi. Mulai dari berbagi takjil, menyantuni fakir miskin, sampai pada celebrasi kelulusan yang paling kuno: corat-coret baju sekolah.

Sekarang dan dalam beberapa minggu ke depan, mereka yang menjadi aktor dan figuran celebrasi tadi kembali disibukkan dengan yang lainnya. Penerimaan Mahasiswa Baru atau lebih familiar disebut PMB. Ya, kita sedang bicara soal kuliah dan kehidupan kampus.

Zaman sekarang ini, setiap lulusan SMA/Sederajatnya tentu memiliki keinginan untuk menjadi seorang mahasiswa. Sebab menjadi mahasiswa itu adalah kebanggaan. Mampu untuk membayar lancar biaya perkuliahan dan tetek bengeknya hingga wisuda, ini adalah keberuntungan.

Mahasiswa yang sungguh-sungguh belajar di kampus, terlebih memiliki keberuntungan tadi, tentu pintu karir akademisnya akan terbuka lebar. Berbeda dengan anak-anak dari golongan tidak mampu yang terpaksa membuang jauh-jauh mimpinya menjadi mahasiswa karena masalah biaya. Bayar uang kuliah? bisa makan saja sudah untung! Begitulah kira-kira.

Saya tidak ingin keluar topik dengan membahas orang-orang miskin ini, karena tak ada yang peduli selain untuk pencitraan semata. Tapi, mungkin ada benang merah antara orang-orang miskin yang tidak beruntung ini dengan budaya senioritas yang masih mendarah-daging. Ya, mungkin.


Pengelanan Kehidupan Kampus Senioritas
Menjadi mahasiswa baru seperti ketiban sial. Harus bangun pagi-pagi, berhari-hari untuk menjalani Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Hanya untuk menjadi "kunyahan" senior, kaum-kaum yang lebih dulu. Mahasiswa Baru yang resmi menyandang status junior, siap-siap jadi "kambing yang dicucuk hidungnya", oleh senior. 

Pemerintah melalui Menristekdikti tiap tahun telah memberikan pedoman terkait PKKMB atau dulunya dibilang OSPEK. Pedoman ini, tujuannya memang untuk meminimalisir tindakan bully dari senior. Tapi saya yakin, pedoman itu tak sepenuhnya dijalankan oleh Kampus, dan panitia yang tak lain adalah para senior.

Senior tidak pernah salah, Junior tidak boleh lebih cantik/ganteng dari senior, Junior tidak boleh lebih tinggi dan/atau pintar dari senior. Pasal-pasal semacam ini akan terus ditanamkan sepanjang masa PKKMB. Disinilah tradisi senioritas mulai ditanamkan ke kepala generasi anak bangsa, calon penyandang gelar akademis.

Kenyataannya, penanaman senioritas ini tidak berhenti di masa-masa PKKMB saja, melainkan ke ruang lingkup yang lebih terstruktur dan sistematis: organisasi ber-tagline "pembela rakyat". Para kader yang masih seumur jagung dipaksa tunduk, senior mendominasi dan pasti benar.

Apa saja arahan dan perintah senior, junior harus patuh. Perintah menindas sesama mahasiswa pun dilakukan. Tak soal benar atau salah. Masuk jurang pun jadi. Tak sampai di situ, biasa dalam pergerakan mahasiswa. Kader bahkan dipaksa tutup mulut dan berhenti aksi jika senior berhasil dapat jatah makan dari dalam.

Mungkin karena Negara ini belum genap seabad dari penjajahan dan kolonialisme, lantas tradisi perbudakan dianggap masih jadi trend dalam mencapai tujuan organisasi maupun individual. Toh sepanjang rezim "orde baru" berkuasa, otoritarianisme dan perbudakan sosial-politik-ekonomi turut dianggap lazim dan menjadi lumrah. Tumbangnya Pak Harto pada 1998 ternyata tak turut menumbangkan kebiasaan otoritarianisme dan perbudakan hingga saat ini, bahkan di dunia kampus.

Atau apakah ada penyebab lain yang memunculkan pertanyaan: kenapa senioritas ini sama persis dengan kolonialisme-nya penjajah atau otoritarianisme-nya orde baru yang sama-sama menindas sesama manusia?


Tumbangkan Senioritas
Tumbangkan Senioritas, pasti akan banyak suara yang tidak senada dengan ini. Namun ketika senioritas bahkan telah sampai pada menciptakan standar nongkrong di kantin dengan peng-klasifikasi-an "meja senior" dan "meja junior", tentu senioritas itu harus ditumbangkan. Sebab tidak ada pembenaran atas perbuatan diskriminatif terhadap siapapun.

Perbudakan dan diskriminisasi yang bertopengkan senioritas di kampus memang harus dibunuh. Bukan hanya dari pikiran tapi dari tindakan kritis mahasiswa itu sendiri.

Sebab Mahasiswa adalah alat dari agenda terbesar di negara ini, agenda itu bernama demokrasi. Mahasiswa dalam konsep demokrasi bisa berperan sebagai busur dan anak panah sekaligus. Tajam dan progresif. Bangun kekuatan dan persatuan dalam penegakan hukum dan demokrasi tanpa pandang bulu. Senior atau tidak, bukan fokus utama. Jadi agent of change sungguhan, itu yang terpenting.

Mahasiswa jangan lagi diam. Senioritas telah membunuh kemerdekaan berfikir rasional seorang mahasiswa secara keji. Ia pantas mati. Hingga akhirnya mati pula sifat acuh tak acuh dan apatisme mahasiswa terhadap masalah sosial, mati bersama senioritas itu sendiri.

KOMENTAR

banner
Nama

Aek Kuasan,8,Aek Songsongan,1,Agenda,22,Air Joman,1,Aksi Solidaritas,2,Aksi Sosial,8,Akun Facebook,1,Alumni,1,APBD,1,ARB,1,Asahan,4,Asahan III,1,Award,1,AXCI,2,Bakti Kampus,1,Bandar Pulau,2,Bantuan Pemerintah,1,BAPOSBUD,1,Batubara,1,BBM,1,BDP UNA,1,Beladiri,1,BEM,6,BEM FH,1,BEM FKIP,2,Benny Wenda,1,Berbagi Takjil,1,Berita Duka,3,Biografi,2,BJ Habibie,2,Blog,1,BP Mandoge,2,BPJS,3,Bupati Asahan,4,CCTV,1,Cerpen,1,Covid-19,16,Curanmor,1,Dekanat,7,Demokrasi,2,Demonstrasi,4,Desa Aek Loba,8,Desa Huta Rao,1,Desa Perk Bandar Pulau,2,Desa Rahuning Induk,1,Desa Sei Nadoras,1,Desa Suka Makmur,1,Dewan Pers,1,Dialog Interaktif,1,Dinas Pertanian Asahan,1,Dosen,3,DPM,4,Dr Salim Fauzi,1,Dunia,4,Edaran,1,Event,5,Faperta UNA,9,Fasilitas Kampus,3,FBK Kemendikbud,1,FE UNA,1,FH UNA,12,FKIP,3,FKIP UNA,4,G30S,1,George Floyd,1,Gubsu,1,Gudsur,1,Hama,1,Hari Anak Nasional,1,Hari Pahlawan,1,Hidroponik,3,Himagrotek UNA,1,HKTI,1,HmI,5,HMJ,1,Hukum,4,HUT Asahan,1,IAIDU,1,IMAPEKA,1,IMM,1,Info Kampus,6,Inovasi,1,Iran,1,Isra Miraj,2,Jamsos,2,Kaleidoskop,1,Karya,1,Karya Bebas,4,Keg,1,Kegiatan,14,Kehamilan,1,Kerjasama,2,Kerjasama Internasional,1,Kesehatan,3,Ketenagakerjaan,2,Khofifah,1,Kilometer Nol,1,KKN,25,KNPI,1,Kolam Renang,1,Komunis,1,Konservasi,1,Kopertis,1,KPAI,1,Kreativitas,2,Kriminal,3,Kurban,1,Labuhanbatu,1,Lalu Lintas,1,Lingkungan,1,LLDIKTI,1,Lomba,2,Maba,1,Magang,1,Magister,1,Mahasiswa,15,Mahatma Gandhi,1,Mangrove,2,Mapala,9,Marching Band,1,Masjid Achmad Bakrie,1,Memanfaatkan Botol Bekas,1,MoU,1,MPM,1,Musrenbang,1,Narkoba,1,Nasional,7,New Normal,1,Olahraga,3,Olimpiade,1,OMEK,1,Omnibus Law,1,Open Donasi,1,Opini,12,Organisasi Mahasiswa,5,Ormas,1,Pam Swakarsa,1,Papua,2,Pasca Sarjana,2,Paus,1,Pendidikan,3,Penelitian,1,Penerimaan Mahasiswa Baru,7,Pengabdian Masyarakat,2,Penghijauan,1,Pengumuman,1,Pentas Seni,1,Penyuluhan,1,Peradilan,1,Peraturan,2,Perempuan,1,Perikanan,2,Peristiwa,2,Pers Mahasiswa,3,Persma Grahita,1,Pertamina,1,Pertanian,7,Pilbup 2020,1,PKI,1,PKKMB,5,PMB UNA,8,PMII,1,Polisi,3,Politik,5,Polres Asahan,2,Polres Tanjungbalai,1,PPWI,1,Pramuka,1,Presma,6,Prestasi,2,Program Doktor,1,Prokes,1,Pupuk,1,Rahuning,1,Raja Dame,1,Rawang Panca Arga,1,Rawang Pasar IV,3,Rektorat,16,Religius,2,Renungan,1,Reuni,1,S Rangkuti,3,S3,1,Sabang,1,Sampah Daur Ulang,1,SAPMA IPK,1,Satpam,1,Satwa,1,Sei Dadap,1,Sei Kamah II,1,Sejarah,3,Sejarah Hari Ini,2,Seminar,1,Seminar Motivasi,1,Sherly Annavita,1,Silau Laut,2,Silo Lama,3,Silo Laut,1,Social Control,1,Sosial,1,Sosialisasi,5,SPRI,1,Suara USU,2,Sumut,2,Talkshow,1,Tambang,1,Teknologi,1,Tercecer,2,Terorisme,1,Tips dan Trik,2,TKI,1,Tokoh,2,Trending Topic,1,UKM,14,Ulama,1,UMKM,4,Unicef,1,Universitas Putra Malaysia,1,Upacara,1,USA,1,Viral,1,Wakil Bupati Asahan,1,Wartawan,1,Wisata,1,Yayasan,9,
ltr
item
PERS MAHASISWA: Senioritas Itu Ketinggalan Jaman
Senioritas Itu Ketinggalan Jaman
https://1.bp.blogspot.com/-9Ym4WX3zNeo/XRMgoOSMf7I/AAAAAAAAAxM/Z0m8lGuNXgoKZsiDRkjhRFjpayG7EDpagCLcBGAs/s400/Senioritas%2BSampah%2BZaman.png
https://1.bp.blogspot.com/-9Ym4WX3zNeo/XRMgoOSMf7I/AAAAAAAAAxM/Z0m8lGuNXgoKZsiDRkjhRFjpayG7EDpagCLcBGAs/s72-c/Senioritas%2BSampah%2BZaman.png
PERS MAHASISWA
https://www.persmahasiswa.com/2019/06/senioritas-itu-ketinggalan-jaman.html
https://www.persmahasiswa.com/
https://www.persmahasiswa.com/
https://www.persmahasiswa.com/2019/06/senioritas-itu-ketinggalan-jaman.html
true
6594029991993515921
UTF-8
Scroll Lainnya Ini yang terakhir. Lihat Semua... Selengkapnya... Reply Cancel reply Delete Oleh Beranda Halaman Artikel Lihat Semua BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT DI BAWAH INI: LABEL Arsip Pencarian... Semua Artikel Artikel yang kamu cari tidak ada di sini. Kembali ke Beranda Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Mengikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content