Pers Mahasiswa AreaFriday, 18 Aug 2017
Find Us on : RSS/Feed Facebook Twitter

Misteri Garis Imajiner Gunung Merapi, Keraton, Hingga Laut Selatan yang Melegenda

- 9 August 2017, 07:08

Misteri Garis Imajiner Gunung Merapi, Keraton, Hingga Laut Selatan yang MelegendaPERSMAHASISWA.COM, YOGYAKARTA – Keraton Yogyakarta Hadiningrat merupakan pusat konsep tata ruang di Daerah Iatimewa Yogyakarta (DIY). Tata ruang daerah ini memiliki keistimewaan berupa garis imajiner yang terbentang dari Gunung Merapi hingga Laut Selatan.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Pantai Parang Kusumo di Laut Selatan, dan juga Gunung Merapi berada dalam satu garis lurus yang dihubungkan oleh Tugu Jogja di tegahnya dan Panggung Krapyak yang dihubungkan secara nyata berupa jalan. Yogyakarta juga memiliki sumbu filosofis yang melambangkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan alam.

Pengamatan citra satelit memperlihatkan lokasi-lokasi tersebut beserta jalan yang menghubungkannya, hampir terletak satu garis dan hanya meleset beberapa derajat.

Keberadaan garis imajiner tersebut dibenarkan oleh mantan Guru Besar Filsafat Universitas Gadjah Mada, Profesor Damarjati Supadjar.

“Garis imajiner itu sudah menjadi wacana lam,” kata Damarjati seperti dikutip dari vivanews.com.

seperti dilansir dari tribunnews.com, jika dilihat dari sisi selatan, Panggung Krapyak ke utara hingga Keraton melambangkan sejak bayi dari lahir, beranjak dewasa, berumah tanggga hingga melahirkan anak. Sedangkan dari Tugu ke Keraton melambangkan perjalanan manusia kembali ke Sang Pencipta. Selain itu, Tugu Golong Giling dan Panggung Krapyak juga merupakan simbol Lingga dan Yoni yang melambangkan kesuburan. Dari keseluruhan itu, Keraton Yogyakarta menjadi pusatnya.

Sedangkan jika dari sisi utara, Gunung Merapi terletak di perbatasan DIY dan Jawa Tengah, yang juga sebagai batas utara Yogyakarta. Disinilah garis lurus itu dimulai. Membujur ke arah selatan, terdapat Tugu Jogja. Tugu menjadi simbol ‘manunggaling kawulo gusti’ yang juga berarti bersatunya antara raja (Golong) dan rakyat (Gilig). Simbol ini juga dapat dilihat dari segi mistis yaitu persatuan antara khalik (Sang Pencipta) dan makhluk (ciptaan).

Garis selanjutnya mengarah ke Keraton dan kemudian lurus ke selatan terdapat Pnggung Krapyak. Gedhong Panggung, demikian bangunan itu kini disebut. Bangunan di sebelah selatan Keraton ini menjadi batas selatan kota tua Yogyakarta. Titik terakhir dari garis inajiner itu adalah Pantai Parang Kusumo, di Laut Selatan dengan mitos Nyi Roro Kidul-nya.

Menurut Damarjati, daerah-daerah yang dilintasi garis lurus imajiner itu hanya ‘kebetulan’ saja terlintasi garis. Tetapi yang sesungguhnya memiliki arti adalah titik di masing-masing ujung imajiner yakni, Gunung Merapi dan Laut Selatan, dengan Keraton berada tepat di tengah-tengahnya.

Kemudian Keraton Yogyakarta dianggap suci karena diapit enam sungai secara simetris yaitu sungai Code, Gajah Wong, Opak Winongo, Bedhog dan sungai Progo.

-WDY-


Informasi Terkait artikel ini :