Pers Mahasiswa AreaWednesday, 18 Oct 2017
Find Us on : RSS/Feed Facebook Twitter

Penguatan Karakter Siswa Tidak Harus dengan Full Day School

- 19 June 2017, 08:06

penguatan-karakter-siswa-tidak-harus-dengan-full-day-school-VHsbJr0Y0ZPERSMAHASISWA.COM – Yogyakarta ,Dalam era ini , krisis moral pada anak semakin meningkat .Mulai dari pergaulan bebas, kenakalan remaja, kebiasaan mencontek ,penggunaan narkoba hingga penggunaan sosial media untuk pornografi pun menjadi permasalahn moral saat ini . Dalam hal ini , pendidikan karakter yang dilakukan di sekola  pada anak merupakan  salah satu hal yang penting dalam proses pembentukan karakter anak guna mencegahnya timbulnya kerusakan moral pada anak –anak.

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono menilai kebijakan Program Penguatan Karakter lima hari belajar per minggu ataua full day school pada tahun 2017/2018 jangan sampai menimbulkan keresahan di masyarakat, apalagi sudah muncul sejumlah penolakan elemen masyarakat.

“Tentu kita memberikan perhatian serius terkait hal ini, niat baik memajukan pendidikan di Indonesia harus kita dukung. Namun sejauh mana Kemdikbud telah mengkaji kebijakan tersebut, apakah sudah secara komprehensif atau belum,” kata Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas di Jakarta, Minggu (18/6/2017).

Dia menilai, membangun karakter anak didik di sekolah tidak serta merta menambah jam belajar siswa dan justru mengorbankan waktu bersosialisasi bersama lingkungan dan bersama keluarga.

Ibas menjelaskan saat Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi X DPR RI pada Selasa 13 Juni 2017, Mendikbud RI Muhadjir Effendi telah menyatakan bahwa ada kesalahpahaman sejumlah elemen masyarakat terhadap rencana kebijakan tersebut.

“Saat itu, Mendikbud menjamin bahwa kebijakan tersebut tidak akan membuat sistem belajar Madrasah Diniyah terganggu,” ujar Ibas.

Peraturan Mendikbud RI Nomor 23 tentang Hari Sekolah telah ditandangani oleh Mendikbud pada tanggal 12 Juni yang lalu.

Ibas menjelaskan meskipun saat Rapat Kerja Komisi X DPR RI tanggal 13 Juni 2017 yang dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, Mendikbud hanya menjelaskan secara lisan tentang rencana kebijakan tersebut.

Disampaikan bahwa, Permen tersebut belum diimplementasikan karena masih menunggu tahapan proses dengan Dirjen Peraturan Perundang-undangan Kementrian Hukum dan HAM RI.

“Sudah cukup jelas, bahwa sosialisasi dan kordinasi menuju implementasi program tersebut masih perlu dimaksimalkan,” kata Ibas.

Anggota Komisi X DPR RI itu menilai Kemdikbud perlu melakukan sejumlah usaha khususnya dengan ormas ormas Islam seperti MUI, NU dan Muhammadiyah, maupun dengan para kepala daerah.

Menurut dia, saat ini ada puluhan ribu Madrasah Diniyah dengan puluhan juta muridnya yang belajar dari pukul 13.00 hingga 17.00 setiap harinya dan juga mempunyai payung hukum yang telah diatur oleh Kementerian Agama RI.

“Saya mengingatkan agar Kemdikbud terus melakukan sosialisasi secara maksimal dan melakukan sinkronisasi kebijakan sesuai dengan aspirasi sejumlah elemen terkait kebijakan tersebut,” ujarnya.

Ibas mempersilakan ada rembug pendidikan nasional agar sinkron antarlembaga, antar aturan agar tidak menimbulkan kekhawatiran.

Ibas juga mendorong kebijakan sistem sekolah delapan jam tidak memberatkan pihak sekolah seperti guru, orangtua dan anak didik selain memaksimalkan sosialisasi dan mendengarkan aspirasi elemen masyarakat.

“Keberpihakan kepala orang tua dan siswa harus diperhatikan. Jelas jangan sampai menambah beban anggaran sekolah yang pada akhirnya membebani orang tua siswa sehingga harus jelas target dalam setiap tahapannya,” ujarnya

 

Nazih

dikutip dari okezone.com


Informasi Terkait artikel ini :