Pers Mahasiswa AreaWednesday, 28 Jun 2017
Find Us on : RSS/Feed Facebook Twitter

BELAJAR DARI KASUS MURNIATI, MAHASISWI UMJ

- 16 January 2017, 06:01

Tak disangka keluarga yang sejak dulu dikenal baik, haromis dan nyaman tetram oleh para tetangga dan orang lain ini mendadak berubah drastis. Rupanya persoalan rumah tangga dan harta warisan lah yang kerap memicu perselisihan antar saudara hingga berujung maut.
Seperti pada kasus mahasiswi Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Murniati (21) yang menjadi korban gelap mata kakak kandungnya sendiri AR yang dengan tega menghajar adik perempuannya hingga tewas tengah malam selasa lalu (10/1/2017). Remaja perempuan ini tak berdaya saat kepalanya dibenturkan ke dinding, dipukuli, dan dibekap menggunakan bantal. AR kesal dengan Murniati karena tak kunjung menuruti permintaannya untuk menjual rumah warisan orang tua mereka.
“Perselisihan itu sudah lama karena berkaitan dengan penjualan rumah. Tapi karena tidak mau dilakukan penjualan jadi terjadilah hal seperti itu,” tutur Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Pol Muhammad Agung Budijono saat rilis kasus tersebut di Polres Jakarta Timur, Jatinegara, Jumat (13/1/2017)
Semenjak AR memutuskan untuk berkeluarga dia sesekali datang untuk sekedar menengok keadaan adik dan ibunya sebab dia sudah tidak lagi tinggal bersama mereka. AR sering bolak-baik ke rumah itu namun ternyata ia membawa niatan lain. Dia mengambil salah satu kunci tempat tinggal tersebut dan akhirnya digunakan pada malam itu untuk masuk ke kediaman adiknya. Dialog yang tidak memuaskan berujung maut bagi si adik.
“Kakak kandungnya sudah mengakui bahwa yang membunuh yang bersangkutan. Yang lainnya kita akan mengecek kunci yang dipakai,” jelas Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan.
“Kunci rumah tersebut ada tiga. Satu kunci dipegang ibu kandung, korban, dan tersangka. Kunci yang dipegang korban dan ibunya ada. Dan yang dibawa tersangka sudah kita temukan,” lanjut dia.
Di kediamannya yang berada di wilayah Bekasi, Jawa Barat AR diringkus oleh aparat kepolisian. Dia dijerat pasal 338 tentang pembunuhan dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Kini tempat tinggal Murniati masih dipasang garis polisi. Karangan bunga dari salah satu perusahaan tempatnya bekerja berdiri terpampang di sudut rumahnya, Jalan Makmur, RT 03 RW 03, Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur.
Semasa hidupnya, para tetangga mengenal sosok sebagai anak pintar dan mandiri. Selain itu, untuk membiayai kuliahnya, dia bekerja di sebuah perusahaan swasta dekat rumahnya.”Dari kecil hingga dewasa dia anak baik, enggak pernah neko-neko. Sama tetangga juga ramah, sering berbaur,” kata salah seorang tetangga yang dipanggil Emak (55) seperti yang dikutip pada Liputan6.com di sekitar lokasi kejadian.
Anak kedua dari tiga bersaudara itu diketahui memang tidak tinggal bersama keluarganya lagi. Dia menetap di hunian yang tidak terlalu jauh dengan rumah sang ibu.”Sudah dari kecil Murni tidak tinggal dengan keluarga. Tapi dekat tinggalnya. Ibu kandungnya juga masih satu wilayah sini,” ujar Emak.Emak mengaku kehilangan atas kepergian . Bahkan tetangga lainnya ada yang menangis saat mengantarkan jenazah remaja putri itu ke liang lahat.
Warga lainnya, Fajri (22) juga merasa kehilangan akan sosok korban yang dikenal baik hati tersebut.”Baiklah anaknya, enggak suka cari masalah juga. Ramah sama siapa aja, makanya saat ada kejadian hingga saat ini masih enggak percaya aja,” tandas Fajri.

~ZRM~


Informasi Terkait artikel ini :